MEDAN - Bank Indonesia Cabang Medan akan mencermati perkembangan gempa di Sumatera Barat yang geterannnya terasa di Sumut, melalui kordinasi dengan jajaran perbankan dan antisipasi pergerakan matauang di tanah air.
“Kita sudah dengar informasinya, telah terjadi gempa di Sumatera Barat berukuran 7,6 pada skala Richter dan getarannya terasa di Medan dan kota lain di Indonesia,” kata Humas BI, Maurids H Damanik kepada pers di Medan , Rabu sore.
Menurut Maurid, sejauh ini pihaknya belum dapat memprediksi adanya rush atau penarikan uang serta gejolak moneter akibat gempa di Sumatera Barat itu. “Memang, kebiasaannya, pascagempa memberi efek di sektor perbankan, terutama keinginan masyarakat untuk bertransaksi di bank, tetapi sampai kemarin, masih aman-aman saja,” ujarnya.
Karenanya, Maurids mengingatkan masyarakat Sumut untuk tidak tergesa-gesa mengambil sikap terkait gempa di Sumbar. Sebagai bank sentral, BI wajib memberikan “pengamanan” kepada semua bank di Indonesia. “Semua bank yang menjadi konsumen BI tetap kita imbau memberi perlindungan dan kenyamanan bertransaksi kepada nasabah,” katanya.
Menyinggung soal BI rate, pada awal September 2009, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 6,50%. BI memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter sejak Desember 2008 melalui penurunan suku bunga BI rate sebesar 300 bps menjadi 6,50% cukup kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan. Tingkat BI rate sebesar 6,50% tersebut juga dipandang konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010 sebesar 5%±1%.
BI meyakini bahwa momentum peningkatan perekonomian domestik semakin kuat. Berbagai indikator menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi masyarakat terus meningkat didorong oleh ketersediaan pembiayaan konsumsi dan tingkat keyakinan konsumen akan prospek perekonomian ke depan.
Ekspor Meningkat
Di sisi eksternal, ekspor juga terus meningkat sejalan dengan membaiknya perekonomian di kawasan, khususnya Cina dan India . Di sisi harga, inflasi selama Agustus 2009 mencatat peningkatan sesuai pola musiman terkait aktifitas Ramadhan namun masih akan cenderung menurun pada sisa tahun 2009 didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah, rendahnya tekanan imported inflation, serta menurunnya ekspektasi inflasi masyarakat.
Ke depan, inflasi 2010 diperkirakan akan kembali ke pola normalnya seiring dengan kembali menguatnya aktifitas perekonomian domestik dan harga-harga komoditas. (Partono)