MEDAN - Pendidikan politik dinilai penting bagi perempuan, karena itu dapat memacu proses pembangunan suatu negara. “Wanita juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pria yakni sama-sama sebagai warga negara untuk mengenyam pendidikan politik yang setara, “ kata Ketua LSM Citra Wanita Indonesia, Citra Rachmadya dalam sambutan pada seminar “Pencerdasan Politik bagi Wanita sebagai Upaya Mengcounter Ekploitasi Wanita” di Gedung Alsitan Jl A H Nasution Medan, belum lama ini.
Menurut Citra, banyak kalangan yang berpendapat, salahsatu solusi bagi keterwakilan perempuan di bidang politik berupa pelaksanaan pendidikan politik bagi kaum hawa itu, meski belum ada formula yang tepat bentuk pendidikannya seperti apa.
Dia menambahkan, perempuan bukanlah komoditas yang layak diperdagangkan atau dipertontonkan. Perempuan bukan pula bagian dari faktor produksi untuk meningkatkan devisa negara.
Sesungguhnya, perempuan adalah ibu generasi dan mitra yang bergerak secara sinergis dengan kaum pria untuk memperjuangkan kemuliaan negara, bangsa dan agamanya.
Memarginalkan keterwakilan perempuan dengan alasan apapun dapat dikatakan tidak manusiawi dan merendahkan harkat dan martabat kaum hawa itu sendiri.
Sementara itu, Penasihat Citra Wanita Indonesia, Dra Lela Erwany M Hum dalam kegiatan tersebut mengatakan, pencerdasan politik kaum perempuan harus mengacu pada sasaran kemampuan mereka sendiri, dengan memiliki kekuatan penyadaran.
Lebih jauh dikatakan, kekuatan emosional perempuan menjadi peluang bagi partai politik untuk memenangkan calon mereka.
Selanjutnya, calon tersebut memiliki fisik yang sempurna, artinya kemampuan memilih kaum perempuan yang didominasi emosional ini pasti akan cenderung pada profil yang sempurna, bukan pada program pembangunan yang ditawarkan.
Terutama pada pemilih perempuan yang pemula, kondisi ini akan semakin meluas jika pemilih pemula perempuan ini tidak diberi bekal pendidikan politik yang cukup.
Solusi
Ke depan, dia menawarkan solusi bagi pencerdasan politik untuk kaum perempuan, yakni perlu melakukan pengembangan kecerdasan spiritual, di mana bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan yang sama dan memiliki hak yang sama.
Kedua mengembangkan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi memang kelebihan yang dimiliki oleh kaum perempuan, oleh karenanya perempuan lebih baik dalam melakukan pendidikan terhadap anak-anak ketimbang laki-laki.
"Tapi kecerdasan emosional ini harus bisa diseimbangkan dengan kecerdasan rasionalitas, sehingga perempuan bisa menggunakan kemampuan rasionalitasnya juga dalam hal-hal tertentu, termasuk dalam kehidupan politik," ujarnya.
Ketiga, mengembangkan kecerdasan berpikir (intelegensi). Didukung pendidikan yang baik, perempuan akan bisa menentukan mana yang baik untuk kehidupannya.
"Sekarang pendidikan untuk perempuan sudah sangat baik dan ini akan memudahkan untuk memberikan pemahaman pendidikan politik bagi perempuan," katanya.
Peserta seminar ini diikuti sebanyak 50 orang yang berasal dari akademisi, pelajar dan mahasiswa, organisasi kemasyarakatan serta masyarakat umum. (rel/partono)