MEDAN - Konversi tanaman dari teh ke tanaman kelapa sawit yang dilaksanakan oleh PT. Perkebunan Nusantara 4 (Persero) di Kebun Sidamanik dan Bah Butong didasarkan pada kerugian yang dialami oleh PTPN 4 selama 10 tahun dari tanaman teh tersebut.
"Kita mengalami kerugian sekira Rp 50 sampai Rp 60 milyar setiap tahunnya selama sepuluh tahun terakhir dari komoditas tanaman teh itu karena peningkatan harga jualnya hanya sebesar 4,8% per tahun. Dan untuk tahun 2011 kemarin, PTPN 4 mengalami kerugian sekitar Rp 65 milyar dari tanaman teh yang ada di Sidamanik dan Bah Butong.
Oleh karena itu, pihak manajemen membuat kebijakan konversi tersebut," jelas Lidang Panggabean, Kepala Humas PTPN 4, yang ditemui di ruang kerjanya, Kantor Direksi PTPN 4, Jalan Letjen Suprapto Medan, kemarin.
Selain itu, over supply teh dunia sebesar 250.000 ton per tahun mengakibatkan sebagian perkebunan teh di India, Srilanka, dan China telah dikonversi ke tanaman lain secara bertahap.
Lidang berpandangan bahwa tanaman kelapa sawit adalah penghasil minyak nabati terbaik dan belum ada yang mampu menyaingi minyak CPO. "Baik dari segi aspek ekonomi maupun agrobisnis, tidak ada yang mampu menyainginya," ucapnya.
Berlebihan
Menurut Lidang, kekhawatiran masyarakat terhadap kebijakan PTPN 4 yang mengkonversi tanamannya di Sidamanik dan Bah Butong Kabupaten Simalungun, sangatlah berlebihan. " Tidak ada korelasi antara banjir yang terjadi disana dengan adanya tanaman sawit di areal kebun kami. Bahwa banjir yang terjadi adalah sebuah siklus alam dan adanya pemanasan global," katanya.
Infrastruktur desa yang kurang baik maupun saluran drainase yang tidak berfungsi dengan baik, menurut Lidang perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat setempat. Masalah konversi tanaman teh ke tanaman kelapa sawit yang dituding sebagai penyebab banjir di daerah itu disebut Lidang terlalu mengada-ada.
"Mungkin ini semacam black campainge dari Uni Eropa terhadap tanaman sawit yang dapat berdampak terhadap fluktuasi harga buah sawit di pasaran," kilahnya.
Sembari memberikan information of sheet dari PTPN 4 tentang konversi tersebut, Lidang menjelaskan bahwa tanaman kelapa sawit yang dalam bahasa Latinnya dikenal dengan Elaeis quineensis, Jacq yang ada di Marjandi, Bah Birung Ulu dan sekitarnya merupakan budidaya kelapa sawit dataran tinggi pertama di dunia yang berada di luar habitatnya yang diakuinya belum ada text book dan rekomendasi lembaga penelitian untuk itu.
Secara literatur, budidaya kelapa sawit direkomendasikan antara lain pada ketinggian lahan dibawah 600 dpl dan suhu udara minimum 17 derajat Celcius. Budidaya kelapa sawit di sekitar Marjandi, Bah Birung Ulu dan sekitarnya telah terbukti berhasil dan menguntungkan.
Budidaya kelapa sawit di dataran tinggi diatas 600 dpl dilakukan oleh PTPN 4 dan keberhasilan PTPN 4 dalam mengembangkan kelapa sawit di dataran tinggi telah ditiru masyarakat di beberapa lokasi di Simalungun. Bahkan beberapa perusahaan teh dan kelapa sawit dalam negeri dan luar negeri seperti Srilanka, sudah belajar dari Simalungun.
Kualitas buah sawit dari lahan yang telah dikonversi seluas 200 Ha itu, diakui Lidang hasilnya sangat memuaskan. "Dengan posisi lokasi di ketinggian 1000 dpl (diatas permukaan laut - red), bagi para pakar akan sulit memahami kalau kualitas dan hasil yang diperoleh PTPN 4 dari sawit tersebut sangat menggembirakan. Buahnya besar - besar dan tanpa melalui buah pasir," sebutnya.
Lidang mengaku bahwa PTPN 4 tidak berniat untuk mengurangi luas tanaman teh yang ada di Sidamanik. Menurutnya, PTPN 4 akan tetap mempertahankan luas tanaman teh sekira 3.700 Ha yang hingga saat ini masih menjadi komitmen pihak PTPN 4. "PTPN 4 akan tetap mempertahankan luas areal tanaman teh di kebun tersebut dan sampai sekarang belum ada perubahan terhadap komitmen itu," tegas Lidang.
PTPN 4 imbuh Lidang, belum mempunyai rencana untuk menjadikan Kebun teh Sidamanik menjadi kawasan objek agrowisata. Hal ini menurut Lidang, karena budaya minum teh bagi masyarakat Sumut tidak sama dengan yang ada di Kawasan Puncak, Bogor.
"Beda kultur masyarakatnya. Kalau disana, perusahaan - perusahaan besar sering membuat acara tea work di kawasan perkebunan teh Puncak, Bogor. Kalau disini, mungkin sulit untuk bisa dilakukan,"pungkasnya. (Partono)