SMK Citra Harapan Percut

Siswanya Boleh Bon SPP 2 Tahun

SMK Citra Harapan Percut

MEDAN - Meski menyandang predikat sekolah berbasis digital, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  Citra Harapan Jl Medan Percut Km 19,5, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, tetap memberikan toleransi kepada seluruh siswanya untuk tidak membayar sampai dua tahun. Tentu, jika memang kondisi keuangan keluarga tidak memadai.

“Ya betul ada yang sampai dua tahun ngebon karena orangtua mereka rata-rata petani, nelayan dan pedagang,” kata Kepala Sekolahnya, Afrizal ST kepada Medansatu.com, Jumat sore ini (23/7).

Namun Afrizal mengatakan, toleransi yang diberikan semata-mata demi pertimbangan kemanusiaan dan kedekatan sekolah dengan siswanya, sebagaimana moto yayasan maju bersama dan “Still the Best, Goes to Digital School ”.

“Mungkin kami yang pertama ngasi bon sama siswa kami yang seluruhnya berjumlah hampir 1.000 orang itu,” papar Afrizal, ketika dijumpai di sekolahnya Jl Medan Percut Km 19,5, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Afrizal baru beberapa bulan mengelola sekolah itu menandaskan, sekolah yang seluruh fasilitasnya dilengkapi LCD proyektor, komputer dan berbasis digital tetap terbuka dengan keadaan sekitarnya, sehingga pendidikan prinsipnya tidak harus dimiliki siswa kaya.

Fasilitas berbasis digital terpasang pada Penerimaan Siswa Baru (PSB), data siswa, dan guru, sistem absensi, perpustakaan, gaji sampai aset sekolah yang dikelola yayasan dan didirikan tahun 2000-an itu.

“Siapa saja bisa masuk tanpa memandang latarbelakang keluarga. Kebetulan sekolah kami sebagian besar orangtua siswa berprofesi sebagai nelayan,dan pedagang,” katanya.

Cari Kerang

Yang menarik, jika orangtua siswa yang berprofesi sebagai nelayan, sekolah juga memberikan keringanan kalau musim panen datang.

Artinya, terang Afrizal, siswa dibolehkan memilih opsi  libur untuk membantu orangtuanya menangkap ikan, atau mencari kerang di laut. “Tetapi dengan syarat, pencarian hasil laut itu untuk membayar uang sekolah nantinya,” urainya.

Para siswa itu yang minta izin tak masuk sekolah dan membantu orangtuanya melaut umumnya pergi pada subuh, siang pulang ke daratan, dan ada yang langsung sekolah atau memilih tak masuk sekolah.

“Mereka tinggal pilih, masuk atau gak masuk sekolah,” papar Afrizal. Selain itu, ada juga siswa yang ikut mencabut bibit (istilah untuk panen beras) bersama orangtuanya yang berprofesi sebagai petani.

Memang, sebut Afrizal, dengan kondisi demikian, sekolah sangat mengharapkan bantuan yayasan untuk menanggulangi krisis keuangan. “Tetapi Alhamdullilah, tidak ada masalah,” katanya.

Bahkan, dengan kondisi seperti itu, sekolah itu malah punya berbagai program bagi siswanya, yakni diberi kesempatan job training (pelatihan sekolah) ke Malaysia selama beberapa bulan.

“Insya Allah tahun ini. Gunanya untuk mengajar siswa menjadi anak didik mandiri. Sedangkan untuk alumni, diberi magang ke Jepang selama 3 tahun. Ini semua berkat kerja sama sekolah dengan berbagai pihak,” ujar Afrizal.

Menyebut kondisi perpustakaan yang dikelolanya, Afrizal mengakui, meski memiliki 5.000 judul buku yang terpasang secara digital di kumputer, pihaknya tetap membutuhkan bantuan buku, karena di sana jumlah buku bacaan (fisik) tidak sampai ratusan.”Akibatnya, minat baca para siswa berkurang,” pungkasnya. (Partono)

cara mudah dan murah membuat website