MEDAN - Warga kota Medan ternyata mulai melirik hiburan sulap, ditandai dengan munculnya atraksi sulap dihampir semua even-event penting di kota ini. Dan komunitas sulap Mystical Fatamorgana Community Magician pun, mulai kewalahan melayani tawaran atraksi sulap tersebut.
Atraksi ekstrim semisal digilas mobil, berjalan diatas pecahan kaca, dibakar dengan lampu obor, lepas dari ikatan rantai, menjadi tontonan memikat dalam setiap penampilan kelompok ini. Namun diluar dugaan, komunitas sulap ini ternyata hanya diawaki lima sekawan yang juga masih usia belia.
Walau sudah sering tampil dalam atraksi sulap dipentas hiburan, Mystical Fatamorgana Community Magician ternyata belum memiliki manajemen sempurna. Sekretariat mereka pun, masih berpindah-pindah. Jika warga ingin mengundang mereka tampil membawakan atraksi sulap, cukup menghubungi salah seorang dari personilnya.
“Kami belum memiliki secretariat representative, maklum semua personil masih lajang dan diantaranya masih kuliah. Maka jika ada orang yang meminta kampi tampil, cukup menghubungi HP kami”, kata Rahmad Syahrizal salah seorang personil Mystical Fatamorgana Community Magician di Medan, Kamis (11/3).
Dengan menyebutkan nomor HP miliknya yakni 081264509122, Rahmad Syahrizal menyebutkan Mystical Fatamorgana Community Magician berdiri di Medan 27 Pebruari 2009, didasari keinginan untuk memberikan hiburan segar bagi warga masyarakat. Personilnya terdiri dari Gunawan Orienfield (Ketua), Rahmad Syahrizal, Bembenk Izugama,Joel, Nursakina.
Pria lajang yang sudah bulat konsentrasi sebagai magician (pesulap) ini mengatakan, awalnya ia tertarik menjadi pesulap karena melihat posisi sulap yang sangat menghibur dan mendidik. Apalagi selama ini sulap umumnya hanya dapat ditonton di layar televisi. Melihat hal itu, bersama kawannya mereka pun tergelitik untuk mengguritakan hiburan sulap di Medan.
“Misi kami masih sebatas menghibur dan belum menjadikan sulap sebagai lahan bisnis. Kami masih tahap memperkenalkan para khalayak bahwa pesulap Medan juga bisa tampil seperti Limbat dan Deddy Corbuzier yang sering muncul di tivi”, kata Rahmad Syahrizal.
Dia mengakui, selama ini sulap belum popular di kota Medan. Bahkan sebagian besar warga Medan masih beranggapan bahwa sulap seperti di Tivi, merupakan hiburan yang mahal.
Padahal kata dia, permainan sulap mulai dari sederhana sampai yang paling ekstrim tidak harus memerlukan biaya mahal. “Dengan membayar Rp 1 juta saja pun, kami sudah dapat tampil secara masimal sesuai keinginan panitia”, ujarnya saat ditanya soal biaya. (Jenderal)