Meilizar Latief :

Kejahatan Dipicu Faktor Ekonomi dan Tipisnya Iman

Meilizar Latief :
Meilizar_Latif_Mayjen.jpg

MEDAN - Tingginya perilaku kejahatan dewasa ini sering dipicu dua hal. Faktor ekonomi dan menipisnya kadar iman seseorang merupakan dua faktor penting yang diyakini sebagai stimulan (perangsang) utama munculnya perilaku penyimpangan sosial (penyakit masyarakat) itu sendiri.

Anggota Kaukus Perempuan DPRD Sumatera Utara, Meilizar Latief, mengatakan, kejahatan yang terjadi di lingkungan masyarakat seperti perampokan, pencurian, penganiayaan, pembunuhan atau perilaku negatif lainnya, memang selalu dipicu dua hal di atas, yakni faktor ekonomi dan menipisnya kadar iman para pelakunya.

"Ini sifatnya tidak lagi kecenderungan. Kedua faktor itu memang selalu dijadikan alasan seseorang mengapa mereka melakukan tindak kejahatan. Inilah realita yang sering kita dengar dan saksikan," kata anggota Komisi C DPRD Sumut ini kepada wartawan di gedung dewan, Senin (1/3).

Menurut politisi Partai Demokrat ini, sebenarnya tidak dua aspek itu saja - meski memang menjadi alasan utamanya - yang sering memunculkan perilaku menyimpang seseorang di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. Tapi masih terdapat berbagai faktor stimulan lainnya yang menjadi faktor penunjang mempertegas para pelakunya nekat bertingkah laku yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat dan peraturan hukum yang ada.

"Keluarga, sebagai lingkungan yang terkecil dalam sebuah hubungan interaksi sosial, juga berperan penting untuk menilai baik atau buruknya para anggota keluarga. Dari sanalah (keluarga) seharusnya langkah awal bagaimana para anggotanya menata kehidupan sosial kemasyarakatannya (pergaulan) yang lebih luas, baik itu di lingkungan tempat tinggal, dan wadah sosial lainnya. Jika pesan-pesan yang mereka dapati selama ini di luar dari konteks nilai-nilai agama, inilah yang dikhawatirkan memunculkan reaksi menyimpang," kata Meilizar Latief.

Terkadang, dalam sebuah keluarga, papar perempuan berkerudung ini, sering terjadi benturan-benturan antara pasangan suami istri yang berakibat buruk kepada perkembangan anak-anak mereka kelak.

"Nah, benturan-benturan ini sering terjadi di keluarga yang kondisi ekonominya kurang baik. Lalu pertengkaran pun sering terjadi di sana. Kita lihat, ada suami yang tega membunuh istrinya atau sebaliknya. Bahkan ada juga istri membunuh anaknya. Ini sering terjadi akibat faktor ekonomi keluarga yang kurang baik. Jadi benar, kemiskinan itu bisa membuat orang kufur," ujarnya.

Jadi persoalan kejahatan yang akhir-akhir ini terjadi, menurut Meilizar, penyebabnya cukup kompleks dan antara penyebab yang satu dengan lainnya saling berhubungan.

"Pemerintah dalam hal ini sudah harus mencari solusi yang cermat. Misalnya membuka kesempatan kerja seluas-luasnya. Dan yang tak kalah penting, peran ulama dalam melakukan pembinaan mental generasi muda perlu dimaksimalkan," demikian Meilizar Latief.(Bembeng)

cara mudah dan murah membuat website