MEDAN - Ketua PGI Sumut menyatakan penyampaian aspirasi hendaknya berlangsung santun dan membudayakan damai janganlah menyinggung orang lain, karena itu dia sangat menyayangkan aksi unjuk rasa membawa-bawa symbol agama seperti yang terjadi baru-baru ini di gedung DPRD Sumut.
“Aksi seperti ini (menyalibkan figuran central dalam unjuk rasa,red) sebagaimana bisa dilihat dalam media massa tidak menyelesaikan persoalan. Dan saya anjurkan umat Kristiani jangan terpancing dan jangan melakukan aksi main hakim sendiri bila melihat foto-foto yang terpampang di berbagai media massa,” kata Ketua PGI Sumut Pdt PWT Simarmata MA kepada wartawan, Senin (1/3).
Sebelumnya Ketua MUI Sumut Prof Abdullahsyah MA juga telah menyesalkan unjuk rasa “menyalibkan” figuran demonstran karena dinilai dapat menimbulkan tafsir lain.
Seperti diketahui aksi massa mempersoalkan dugaan korupsi H Syamsul Arifin selain “menyalibkan” figuran juga dinilai telah melakukan tindakan menghujat dan memposisikan figur yang dituding seakan-akan hina.
Menurut Ketua PGI Sumut kalau ada sebuah aspirasi hendaknya disampaikan tanpa menyinggung orang lain walau setiap orang bebas menyampaikan aspirasinya karena negara kita adalah negara hukum maka penyampaian aspirasi itu juga hendaknya tidak melanggar hukum apalagi kalau dilibatkan dengan symbol-simbol agama lain.
Cara seperti ini bisa memunculkan masalah lain dan tidak menyelesaikan persoalan yang sebenarnya. “Kalau ada sesuatu kecurigaan terhadap aparat atau pemimpin sebaiknya agar disampaikan lewat ranah hukum,” katanya.
Ketua PGI Sumut mengharapkan semua kita bisa semakin dewasa dalam menyikapi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan dan menghormati serta menghargai kepelbagaian. Sebab kepelbagaian adalah anugrah Tuhan yang sangat berharga dan menjadi asset dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Terhadap dugaan hukum kepada Gubsu H Syamsul Arifin, Ketua PGI Sumut menyerukan kepada umat Kristiani untuk tetap membudayakan damai dalam menyikapinya dan karena dugaan itu memasuki ranah hukum percayakan sepenuhnya kepada mekanisme hukum.
Gubsu H Syamsul Arifin sendiri dinilainya telah menjadi gubernur seluruh rakyat Sumut. “Beliau adalah sehabat semua suku, beliau sahabat semua agama. Memang belum sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna, karena itulah jika ada kelemahan di antara kita, kita juga saling memaafkan,” katanya. (Ams Purba)