
MEDAN – Anggota dewan Pers, Sabam Leo Batubara menyatakan, menjamurnya wartawan “abal-abal” yang tidak memiliki kompetensi melaksanakan tugas dan fungsi pers, menjadi ancaman serius dalam mewujudkan kemerdekaan pers yang professional.
“Wartawan abal-abal memanfaatkan era kebebasan pers untuk mencederai citra pers professional, guna mengaut keuntungan peribadi dan kelompok. Mereka berpraktek sebagai wartawan, tapi tidak memiliki etika dan idealisme profesi”, kata Leo di Medan, Sabtu (6/2) siang ini.
Berbicara dalam Seminar Literasi Media “Mendorong Masyarakat Cerdas Memahami Media” di gelar Dewan Pers di Garuda Hotel Medan, Leo menuding wartawan abal-abal sebagai ancaman yang merusak citra pers.
Leo mengatakan, sejak UU No 40 tahun 1999 tentang Pers disahkan, kemerdekaan pers sangat diagungkan banyak pihak. Siapa saja merdeka semerdekanya menerbitkan pers dan diantaranya tidak dilandasi idealisme dan professionalisme. Mereka tidak paham etika pers dan miskin keahlian teknik jurnalisitik.
Ciri umum wartawan abal-abal itu kata Leo, antara lain memegang kartu pers tetapi tanpa media yang jelas. Mereka biasanya bergerombol, menunjukkan kartu pers untuk gagah-gagahan serta selalu meminta imbalan untuk tidak memberitakan sesuatu kasus.
Munculnya wartawan abal-abal juga disebabkan banyak faktor, selain terbukanya peluang menerbitkan Koran pasca lahirnya UU No.4o tahun 1999. Sejumlah kalangan justru ada yang memelihara wartawan abal-abal itu, dengan melayani dan memberikan imbalan tertentu.
Leo meminta agara masyarakat tidak melayani wartawan abalabal, karena tidak akan dapat diharapkan untuk menjalan tugas dan fungsi pers sebagai penyebar informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.
“Hanya wartawan profesional yang dapat diharapkan mampu menjalankan tugas dan fungsi pers secara benar”, katanya. (Jenderal)