Azis Angkat dan Demo Maut Itu

SAYA TIDAK pernah lupa jika kalender sudah menunjukkan angka 3 Pebruari. Angka ini sangat membekas dalam ingatan saya. Betapa tidak, peristiwa tanggal 3 Pebruari 2009 adalah peristiwa paling tragis yang pernah saya saksikan sendiri di dunia.

 

Ya, Selasa 3 Pebruari 2009, Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Azis Angkat MSP, tewas setelah didemo ribuan massa. Saya tak menduga, ternyata bangsa kita bukan bangsa yang santun. Malah kita berpotensi sebagai bangsa yang kasar, brutal dan sadis. Main kroyok.

Saat itu, setahun silam, makin sadar saya betapa ajal  pun tak dapat ditebak kapan datangnya. Ajal sangat tepat waktu, datang sesuai jadwal ditentukan. Ajal hanya rahasia Allah Swt.

Pagi hari sebelum rapat paripurna  tentang pergantian antarwaktu anggota DPRD yang mengundurkan diri di gelar, saya masih bertemu Azis Angkat di tangga gedung dewan samping Fraksi PDIP.

Sambil menelepon dan berjalan menuju ruang paripurna tempat dia akan memimpin sidang paripurna, Azis sempat menegor saya. “Aman……jenderal ?”, katanya sambil melambaikan tangan.

Saya jawab “aman katua !”. Kami pun berpisah. Azis langsung ke ruang paripurna, sedangkan saya menuju ruang Fraksi PPP bermaksud membaca Koran pagi. Tak ada tanda-tanda  hari itu, Azis akan meninggal.

Berselang kemudian, gedung dewan didatangi ribuan massa. Gendang pun ditabuh di depan gedung dewan, sebagian lagi menyebar kesemua penjuru gedung. Saya pun berupaya melihat keluar gedung, ternyata massa sudah penuh. Membludak. Umumnya satu etnis dengan saya, berbahasa Tapanuli.

Belakangan dari spanduk dan poster yang dibawa massa, saya tahu mereka pendukung provinsi tapanuli (Protap). Beberapa pekan sebelumnya, sebagian dari mereka juga sudah demo di gedung dewan, menuntut pembentukan Protap.

Hari itu, massa sangat tak terkendali. Pemaksaan kehendak sangan ketara. Dan………wah……seram.

Seperti sudah kami beritakan di media massa, hari itu benar-benar kelabu. Abdul Azis Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara, meninggal dunia pukul 13.00, hanya beberapa menit setelah dievakuasi dari Gedung DPRD menggunakan mobil polisi.

Kini setahun sudah peristiwa naas itu terjadi. Kasus Azis Angkat sudah mulai dilupakan orang. Namanya hanya diabadikan di ruang rapat Fraksi Partai Golkar, sebagai ruang rapat Abdul Azis Angkat.

Pengusutan kasus kematiannya di PN Medan juga tak tahu persis bagaimana. Berita sidang-sidang para pelaku demo anarkis  itu pun sudah senyap.

Kini gedung dewan tempat Azis sempat menjadi ketuanya, sedang dibangun berlantai empat. Akankah gedung baru itu akan menabalkan nama Azis Angkat ? Entahlah.

Bagi almarhum, nama tentulah sudah tak berarti. Tapi karena manusia gampang lupa, selayaknyalah nama Azis Angkat ditabalkan pada salah satu ruangan di gedung baru itu. ***

cara mudah dan murah membuat website