
INNALILLAHI wainna ilaihi raji’un. Semua yang datangnya dari Allah, akan kembali juga kepada Allah. Begitulah, KH Abdul Rahman Wahid yang kita kenal dengan nama Gus Dur meninggal dunia di RS DR Cipto Mangun Kusumo Jakarta Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB.
Dalam beberapa hari ini, kesehatan Gus Dur yang lahir di Jombang 4 Agustus 1940 memang dilaporkan sedang memburuk. Dan ketika dikabarkan meninggal dunia, air mata menetes dari jutaan mata manusia.
Kepala banyak orang temasuk musuh-musuh politiknya pun menunduk, saat mendengar kabar duka itu.
Menurut Sholahuddin Wahid, adik almarhum, Gus Dur akan dimakamkan di kompleks Pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur kamis besok setelah sholat zuhur. Kakek Gus Dur yakni Hasyim Azhari dan ayahnya yakni Wahid Hasyim memang di makamkan disana.
Pada hari Minggu pagi yang lalu, Gus Dur dikabarkan sempat ziarah kemakam ibunya disana. Konon Gus Dur berpesan kelak dia juga akan dimakamkan disana. Saat itu, Gus Dur baru keluar dari Rumah Sakit Jombang dan masih kondisi kesehatan yang buruk.
Tapi itulah Gus Dur, selalu tampil beda walau sedang dalam keadaan sakit. Lihat misalnya, setelah dari tiba di Jakarta dari Jombang, Gus Dur masih singgah sebentar di gedung PB NU Jalan Matraman Raya Jakarta.
Seolah, guru bangsa itu ingin singgah untuk terakhir kalinya di kantor yang banyak mewarnai perjalanan hidupnya itu. Maklum, sejak tahun 1984 dia sudah berkantor di sana.
Gus Dur memang sempat menetap di Jomnbang selama 14 tahun, setelah pulang belajar dari Kairo dan Bagdad Irak tahun 1971. Namun cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Azhari itu, pindah ke Jakarta dan menjadi tokoh nasional yang ikut mewarnai iklim demokrasi ditanah air.
Dia akhirnya menjadi Ketua Umum PB NU sejak tahun 1984 sampai 1999. Tapi selain tokoh agama, dia dikenal adalah tokoh pluralistik yang tidak membedakan suku, agama dan golongan.
Dia tokoh yang membuka pintu kepada semua pihak. Dia memberi warna bagi demokrasi. Meski cenderung kontraversional, namun dia dikenal sebagai tokoh pembela kaum tertindas.
Ketika dipercaya menjadi Presiden di era reformasi, Gus Dur memberi peluang kebebasan bagi semua pemeluk agama dan kepercayaan untuk menjalankan keimanan dan kepercayaannya. Dimasa kepemimpinan Gus Dur lah etnis Tionghoa di Indonesia dapat merayakan hari raya imlek.
Pribadi Gur Dur dikenal penuh dinamika. Langkah politik Gus Dur sulit dipahami, sehingga sering disebut sebagai tokoh kontroversional. Misalnya gagasannya untuk menjalin kerjasama dengan Israil, pernah menuai polemik. Dia berani mengemukakan apa yang dipikirkannya.
Ketika menjabat Presiden RI, dia sering mengemukakan jargon “Begitu aja kok repot”. Artinya dia praktis tak mau yang rumit, dia solah membuat semua menjadi mudah.
Gus Dur adalah buku berjalan yang dapat dibaca orang secara terbuka. Siapun dapat membacanya. Dia dalah tokoh besar bangsa Indonmesia.
Namun seperti terukir dalam keimanan kita, tidak ada yang kekal pada kehidupan dunia. Semua yang bernyawa pasti akan mati. Keinginan manusia boleh saja beragam, tapi semua tidak dapat lepas dari ketetapan Allah.
Gus Dur kini telah tiada, dia telah menghadap sang khalik. Meninggalkan 4 putri dan seorang istri. Selamat jalan Gus Dur, sang guru bangsa. ***